Mungkin Blog ini cenderung ungkapan emosi pribadi. Boleh dilihat dan dikomentari tapi silahkan sekedarnya saja. OKE Kawan...........
Jumat, September 30, 2011
kesedihan....
bukanlah sesaat
melainkan perjalanan
...
benarkah ia bahagia
ataukah sebaliknya
bukanlah sekarang dinilianya
...
keduanya adalah kesimpulan
yang akan ada di bagian akhir perjalanan
...
sekarang hanyalah luapan emosi
kadang senang kadang susah
kadang bahagia kadang sedih
...
sejatinya akan tercermin saat telah sampai
sampai dipenghujung perjalanan
tatkala disimpulkan
oh...
ternyata dia begitu bahagia
atau
justru sebaliknya
....
Rabu, September 21, 2011
Jumat, Februari 25, 2011
Sang Bijak
dua mata agar kita tidak melihat persoalaan hanya dari satu sudut pandang saja.
dua telinga agar kita tahu ada banyak pendapat disekeliling kita.
dua tangan agar kita pandai-pandai bekerjasama
dan dua kaki agar kita tahu tak ada yang bisa berdiri sendiri.
sekedar Upload
Tugas Kepemimpinan
Dosen : Dr. Tamrin Lanori, S.E., M.Si
Tugas I
Tipe kepemimpinan yang saya inginkan dan harapkan:
Bagi saya dalam kepemimpinan (leadership) harus memiliki empat unsur:
- Demokrasi
- Bijaksana
- Intuitif
- Inovatif
Demokrasi sangat penting keberadaanya dalam kehidupan berkelompok. Tingkah laku antar pihak dalam kelompok harus mencerminkan sikap demokratis agar bisa tercapai kehidupan yang saling menghargai satu sama lain. Watak utama dalam demokrasi adalah “mempersilahkan” yaitu mempersilahkan orang untuk bersuara dan bertindak apapun dengan tetap mempersilahakan pihak lain untuk tidak tersinggung dan terganggu. Demokrasipun menjamin kebebasan berpendapat dan bertindak dengan tetap memperhatikan dan menghargai hak-hak pihak lain.
Kondisi yang demokratis semacam itu mungkin hanya bisa diterapkan oleh pihak-pihak yang berjiwa bijaksana, yaitu orang-orang yang mengetahui apa yang harus diperbuat dan yang seharusnya tidak diperbuat, mengetahui kapan harus berbuat dan kapan harus diam (tidak berbuat). Sayangnya, sangat sulit menemukan orang yang semacam ini, karena sangat tidak mungkin ada seseorang yang bisa tahu secara sempurna apa dan kapan harus berbuat sesuatu. Namun demikian orang yang memiliki intusi yang tinggi setidaknya bisa mencari solusi dan mengetahui dari mana harus memulai solusi tersebut. Kemampuan intutif yang tinggi akan membuahkan solusi-solusi baru dalam berbagai persoalan. Yang pada akhirnya tak ada permasalahan yang tidak dapat dipecahkan.
Bagi seorang pemimpin kemampuan memecahkan persoalan adalah hal yang mutlak dan penting diperlukan. Pemimpin juga memahami kapan dan bagaimana menentukan kebijakan dengan tetap memperhatikan dan mempertimbangkan kehendak orang-orang yang dipimpinnya. Dan tipe kepemimpinan seperti inilah yang saya dambakan dan inginkan.
Tugas II
Perbedaan antara definisi dan hakekat manajemen menurut Koontz dan O’Donnel.
Definisi Manajemen menurut Koontz dan O’Donnel:
Suatu proses atau bentuk kegiatan yang didalamnya terdapat kegiatan memberi bimbingan dan pengarahan terhadap sekelompok orang-orang untuk mencapai tujuan organisasi.
Sementara hakikat dari manajemen menurut mereka :
Memanfaatkan dan menggerakan manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
Dengan melihat kedua hal diatas (definisi dan hakikat) maka dapat ditilik perbedaanya, dimana definisi manajemen lebih menekankan pada proses berjalannya manajamen yang bersifat mengajak tanpa menitik-beratkan pada hasil pencapaian tujuan. Selama proses/kegiatan manajemen berjalan maka sudah dianggap telah me-menej suatu organisasi.
Sementara hakikat manajemen menitik beratkan pada keberhasilan pencapaian tujuan. Apabila seseorang mampu menggerakan orang lain untuk melaksanakan dan berhasil mencapai tujuan maka pada hakikatnya dia telah mampu memenej orang tersebut.
Tugas III
Dalam pencapaian target, seorang pemimpin perlu bersikap:
a. Otorita
Dalam berorganisasi tidak jarang ditemukan persoalan dimana ada pihak-pihak yang tak sejalan/sependapat dengan pihak-pihak lainnya. Pemimpin tentunya harus mampu bersikap bijak dalam menghadapi persoalan semacam ini. Manakala perbedaan itu masih bisa ditoleransi mungkin tidak jadi terlalu menghawatirkan tetapi manakala perbedaan itu sudah mengarah pada kemunduran dan kehancuran organisasi maka seorang pemimpin perlu mengambil tindakan tegas. Bahkan sikap otoriter perlu diambil demi menjaga stabilitas dan keberlangsungan organisasi.
Otoriter bukanlah untuk menjaga/mengamankan posisi pemimpin atau sebagian orang melainkan untuk menjaga dan mengamankan keberlangsungan organisasi secara umum.
b. Inisiatif
Seorang pemimpin tidak boleh menunggu dan menunggu. Menunggu diberi nasehat, menunggu menerima kritikan, menunggu ditegor dan sebaginya melainkan harus cepat mengambil inisiatif dalam berbagai hal terutama untuk kemajuan dan keberlangusngan organisasi. Inisiatif tidak selamanya dari dalam diri pemimpin itu sendiri tetapi bisa juga berinisiatif meminta pendapat arahan dari pihak lain atau berinisiatif mencari refrensi dari pihak lain.
c. Konsisten
“Sabdho pandito Ratu tan keno wolak walik”, itulah sepenggal pribahasa yang mengisyaratkan bahwa sang pemimpin harus konsisten dengan kebijakan/keputusan yang telah diambil, konsisten dengan apa-apa yang telah diucapkan dan diperbuat. Karena dari situlah orang akan menilai pemimpinnya, dari situlah orang menjadi bersimpati dengan sikapnya. Sikap konsisten mencerminkan diri seseorang yang mengikuti/menjalani perkataannya sendiri sebaliknya inkonsisten menunjukan orang yang ingkar terhadap ucapan dirinya sendiri. Jika pemimpin sudah tidak konsisten bagaimana orang lain mengikuti sementara dirinya tidak mengikuti apa-apa yang telah menjadi kebijakan.
d. Bertanggung jawab
Hal yang terberat menjadi seorang pemimpin adalah tanggung jawab, yaitu bertanggung jawab terhadap apa-apa yang dipimpinnya. Baik-buruk, salah-benar dan maju-mundurnya organisasi menjadi tanggung jawab pemimpin. Untuk itu, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan besar agar mampu memimpin organisasi secara baik dan benar serta tidak takut dalam menghadapi persoalan. Harus berani mengambil resiko dan bertanggungjawab.
e. Meyakini apa yang dikerjakan
Tak jarang seorang pemimpin itu menjadi panutan dan menjadi contoh/figur bagi orang-orang yang dipimpinnya. Mereka mencontoh dan mengikuti pimpinannya karena diyakini bahwa apa yang dikerjakan pemimpinnya adalah suatu kebenaran yang mendatangkan kebaikan. Dan sebelum orang-orang meyakini hal itu maka seorang pemimpin harus terlebih dulu meyakini apa yang dikerjakannya, yakin bahwa hal itu adalah benar dan bisa mendatangkan kebaikan dan keberhasilan bagi organisasi. Pemimpin tidak boleh ragu dengan langkah dan kebijakan yang diambil/dilaksanakan.
f. Berani mengambil keputusan
Seorang pemimpin pasti sering menjumpai pilihan-pilihan atau alternatif-alternatif kebijakan yang akan diambil. Hal itu sangat wajar apalagi dalam suasana demokrasi dimana akan muncul beberapa pendapat yang berlainan. Semua itu tidak akan menjadi sulit selama tidak ada pertentangan antar pilihan kebijakan/pendapat yang ada. Namun tatkala ada konflik antar pendapat maka disinilah perlunya seorang pemimpin mengambil keputusan dan mungkin keberanian ini akan dirasa otoriter. Hal ini sangat penting sebab tidak mungkin organisasi menjalankan kebijakan ganda dan saling bertentangan. Keberanian dalam mengambil keputusan adalah sikap yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin.
Kamis, Oktober 22, 2009
Satu Hakikat dalam Cinta
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, Jangan sesekali menyerah jika kamu masih merasa sanggup, Jangan sesekali mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat
Kamu tidak pernah tahu bila kamu akan jatuh cinta. namun apabila sampai saatnya itu, raihlah dengan kedua tanganmu,dan jangan biarkan dia pergi dengan sejuta rasa tanda tanya dihatinya
(debz beibz)
Hmmmzz........
seandainya ada firasat meyakinkan akan datangnya cinta, entah dari siapa dan dari mana, mungkin tak perlu ada ke-gegabahan dalam beramal. tak perlu ada pilu dalam kalbu. namun rahasia Ilahi lebih menarik dari skenario apapun, sehingga tak satupun yang bisa menerka akan lanjutan garis-garis ditapak tangan seseorang, kecuali atas izin-Nya.
biarkan saja ilalang itu melanjutkan hidupnya, cukupkan saja sikap pada merenungi, karena setiap alam punya kehidupannya masing-masing. tak perlu terlalau asik dalam mengusik, karena desiaran angin yang menerpa akan lebih indah dirasa. dan begitulah seharusnya ilalang itu tampak. dengan alam dia berteman, dengan dirinya ia menjalani hidupnya, dan dengan sendirinya ia mengahiri sejarahnya.
Rabu, Oktober 21, 2009
Tak Tau
Sejuta kata tertuang dalam goresan tinta, meskipun tak satupun yang bermakna, tapi biarkan itu terbaca, entah oleh siapa. Mungkin bila raga dan cipta menjiwa atasnya, semua baru terasa, sungguh betapa berharga manakala sudah tiada. Biarkan cerita terus dibaca meski tak lagi diri ini bersamanya. Namun semua kan tetap bermakna pada setiap sukma.
Hati-hati
meskipun jarang yang sehati
hati-hati
dengan hati
dia bisa sakithati
apalagi patah hati
Hati jarang yang mengerti
Berhati pun sering mengingkari
Apalagi yang tak memiliki
Silahkan mengkoreksi
Hati ini seperti ini
Hati itu seperti itu
Silahkan, tapi jangan begitu…….
Senin, Februari 16, 2009
Bukan Niatku
Setiap kita punya hati, meskipun sangat jarang yang sehati, karena ibarat pepatah “Lain lading lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Yah… aku dirasa menyebalkan entah oleh seberapa banyak orang. Mungkin hampir sebanyak helai rambutku.
Mungkin pertanyaanku sebagai harapanku, apakah aku akan dimaafkan?? Ataukah menjadi kebencian bagi mereka?? Padahal aku selalu berkata, aku hanyalah seorang muslih dan bukan sapa-sapa, tak ada kelebihan yang lebih, dan semoga tak ada kekurangan yang berlebih dalam diriku. Betapa sakit, betapa miris hatiku tatkala seseorang mengingat aku dalam kebencian.
Jika ada waktu, ada kesempatan, ada umur dan ada takdir aku yakin aku akan bertemu dengan orang-orang yang aku harapkan, entah siapapun dan dimanapun. Sekedar harapan agar tak ada kebencian dalam diri semua orag pada diriku.
Jumat, Oktober 31, 2008
Selamat Memasuki Masa Purna Tugas Buat Pak Pipiep
Entah berapa lama kebersamaan ini berjalan, Banyak sudah jasa yang telah tercipta, keberhasilan yang terukir dan langkah yang dilewatai. Meskipun tak sedikit kegagalan yang mendera. Semua itu akan menjadi goresan tinta emas dalam sejarah dan menjadi cerita bagi siapapun di hari esok nanti.
Kebersamaan memang tak selalu harus bersama, tapi dari situlah arti saling memiliki. Kadang kami terlalu acuh dengan sesama, terlalu cuek dengan Bapak. Padahal dari “Panjenengan” kami mengenal hal-hal baru dalam pekerjaan. Rasa acuh dan cuek itu membuat kami lupa kalau hari kian berlalu hingga datang masa “berpisah”. Dan tak terasa penyesalanpun menghampiri kami. Kata orang, setiap perjalanan selalu ada permulaan dan akhiran. Begitu juga dalam perjalanan karier, pekerjaan ataupun tugas seseorang. Masa purna tugas adalah hal yang biasa dalam perjalanan tugas. Karena setiap pegawai pasti akan melaluinya. Yang penting adalah melalui purna tugas dengan catatan yang membanggakan, bagi diri kita juga bagi Negara.
Entah apa yang telah kami rasakan, benarkah seorang kepala kantor?? Tapi yang kami rasakan seoalah Ayah yang selalu melindungi, membimbing dan menasehati kami dalam banyak hal. Mungkin begitulah sejatinya pemimpin. Tak banyak yang bisa kami perbuat dalam mengiringi perjalanan tugas bapak, karena apalah daya tangan-tangan kami ini, hanya sebatas ini dan itu yang bisa diperbuat dan tak lebih.
Kami tak bisa memberi apa-apa untuk mengiringi Bapak menapaki masa purna tugas dari Direktorat Jenderal Pajak ini. Sebatas doa yang dibumbuhi harapan-harapan semoga Bapak selalu diberkahi dan di ridhoi oleh Yang Maha Kuasa. Selalu diberi kesuksesan dalam segala hal, dalam kebaikan.
Semoga kebersamaan ini selelu terjaga meski kita tak lagi bersama, semoga silaturahmi tetap terbina. Dan semoga kebahagiaan selalu menyertai kita. Amiiiin.
Rabu, September 17, 2008
Lihat apa yg dikatakan, bukan siapa yg mengatakan
Seperti segelintir orang yang kebetulan tidak sejalan/sependapat dengan KH. Abdurahman Wahid yang berujung pada sikap tidak suka pada beliau. Meskipun saya yakin ketidaksukaan itu sekedar ikut-ikutan saja.
Saya akui memang banyak pendapat dan kata-kata beliau yang kelihatannya salah (menurut kita) atau yang menurut sekelompok orang bertentangan dengan syariat islam. Namun haruskah disikapi dengan emosi?? Mungkin bagi yang tidak sejalan atau kebetulan tak suka sikap demikian adalah wajar tapi apakah Cuma sikap emosi saja? atau sekedar menjelek-jelekan beliau?. Menurut pendapat saya, sekali lagi bagi yang tidak suka pada KH. Abdurahman Wahid silahkan bereaksi tapi cobalah dengan santun yg mencirikan sikap dewasa dan bermoral. Tidak justru marah-marah apalagi menghujat. Karena sikap yang demikian itu justru mencerminkan diri kita sebagai pribadi yang tak berpendidikan dan tak bermoral.
Namun itulah yang akan terjadi bila seseoarang itu sudah dikuasai emosi dan tidak punya sifat bijaksana menghadapi persoalan. Akibatnya lebih sering terjadi tindakan sesaat tanpa berpikir panjang. Akhirnya kita tidak sempat lagi meneliti dan menelaah apa maksud yang terkandung dibalik ucapan Mantan Presiden RI ke-4 itu. Karena tidak mungkin orang besar seperti beliau itu mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang merugikan (Islam). Memang sekilas aneh, membingungkan dan tampak merugikan Islam. Tapi jika diteliti lebih mendalam maksud kata-kata beliau, pasti kebaikan yang akan didapatkan. Tapi sekali lagi kadang kita tidak sempat menelaah karena sudah emosi duluan.
Sebagai contoh sikap beliau yang menentang RUU tentang Pornoaksi dan Pornografi. Sekilas memang menunjukan bahwa Gusdur seperti anti Islam karena tidak setuju diterapkannya UU yang berdasarkan syariat Islam. Sikap beliau ini ditentang sekelompok orang yang seolah-olah tau benar tentang syariat Islam.
Menurut penelaahan saya, penolakan beliau itu paling tidak ada 2 alasan. PERTAMA, Beliau mengajarkan pada kita agar senantiasa Ikhlas, yaitu beramal karena Allah SWT. Andaikata RUU APP jadi diundangkan di Indonesia, mungkin para wanita Indonesia berjilbab bukan karena ikhlas, tapi karena melaksanakan UU Negara, Orang menutup aurat bukan lagi karena perintah Agama, melainkan karena perintah Negara. Lama kelamaan orang menjalankan Agama karena tunduk pada UU Negara bukan karena Allah. Selain itu mungkin akan terbentuk wacana (di luar Islam) bahwa Muslim Indonesia itu seperti anak-anak yang harus selalu dituntun oleh Negara.
KEDUA, disadari atau tidak ada kecenderungan pada diri kita melanggar aturan yang telah ditetapkan. Aturan yang sudah jelas dan langsung hukumannya saja gampang/sering kita langgar seperti peraturan lalu lintas, peraturan pelarangan buang sampah sembarangan, merokok di tempat umum dsb. Apalagi peraturan semacam RUU APP yang sanksinya belum jelas. Jika RUU ditetapkan, pertanyaan yang mungkin perlu dijawab adalah “sudah siapkan kita melaksanakan RUU itu?? Sementara ribuan peraturan yang sudah ada saja masih banyak yang belum sempat kita taati”. Jadi menurut saya, beliau menasehati kita agar konsisten, konsekuen dan berhati-hati dengan ucapan, pendapat kita.
Hal lain yang saya cermati mengenai Komentar-komentar miring terhadap KH. Abdurrahman Wahid berkenaan dengan Karikatur Rasulullah Saw.
Banyak komentar yang sifatnya menghujat beliau, karena menurut penilain mereka Gusdur tidak merasa sakit hati atas penodaan Islam dengan adanya Karikatur Rasulullah.
Jujur saja, saya mungkin orang yang telat mengetahui tentang adanya karikatur Nabi itu. Makanya saya telat pula bereaksi. Tapi setelah saya tau pun reaksi saya biasa saja. meskipun dalam hati panas, kenapa makin hari ulah orang-orang diluar islam makin menjadi-jadi. Tapi sekali lagi “panas” saya cukup dalam hati dan tidak sampai beraksi lebih. Karena saya menurut pendapat saya kasus seperti itu sudah ada sejak sebelum itu, mungkin krikatur Nabi sudah banyak dibuat hanya saja yang terkuka heboh adalah krikatur dari Denmark.
Menurut Pendapat saya pula, jika kita bereaksi berlebihan sperti yang dilakukan orang lain, mungkin sesungguhnya bukan karena Karikatur tersebut. Melainkan karena kita tau dan baru tau kasus yang terjadi. Andai kita tidak tau mungkinkah kita bereaksi seperti itu???.
Baru-baru ini, Presiden RI ke-4 jug mengeluarkan semacam”titah” kepada pendukungnya untuk mengepung KPUD se Indonesia. Perintah yang dianggap sebagian orang tak pantas dikeluarkan. Kontan saja statement itu mengundang berbagai reaksi. Bagi simpatisannya yang sejati pasti langsung melaksanakan titah tersebut dan bagi yang kebetulan kontra dengan Gusdur, bisa dipastikan akan bereaksi juga. Entah dengan komentar-komentarnya atau dengan aksi-aksi yang berlawanan dengan statement tersebut.
Namun tentu saja ada maksud lain di balik statement Gusdur tersebut. Beliau itu orang besar, banyak yang menganggap beliau sebagai Bapak/Guru Bangsa, sangat tidak mungkin apabila mengeluarkan pernyatan yang akan menjatuhkan nama besarnya. Mungkin bagi orang lain tindakan Gusdur itu dinilai ‘negatif’, tapi adakah yang tahu apa maksud dibalik ‘titah’ pengepungan kantor-kantor KPUD??. Mungkin jawabannya tidak ada yang tahu.
Mencermati perintah beliau kepada simpatisannya tersebut, saya mencoba menebak apa maksud perintah beliau tersebut. Tapi bukan berarti saya mengetahui, karena sekali lagi saya sekedar menebak.
Pertama, perintah beliau tersebut mungkin dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar, seberapa banyak simpatisan beliau yang masih setia pada dirinya. Melalui reaksi masyarakat di berbagai daerah baik yang mendukung lalu melaksanakan perintah beliau maupun yang mengabaikannya, beliau dapat membandingkan dan mengetahui masih seberapa banyak masyarakat yang masih setia mendukung beliau. Entah dari kalangan NU, PKB atau masyarakat umum. Ibaratnya beliau itu melempar umpan dan menunggu reaksi dari umpan tersebut. Jadi menurut tebakan saya, bukan pernyatan/perintah pengepungan KPUD yang dimaksudkan melainkan reaksi apa yang akan terjadi. Apakah akan diikuti oleh pendukungnya atau diabaikan begitu saja. Dari situ tentu beliau akan mengambil langkah-langkah politik berikutnya.
Kedua, reaksi yang muncul setelah turunnya ‘titah’ beliau tersebut akan dijadikan perhitungan langkah politik beliau selanjutnya. Apakah beliau akan terus berambisi melaju menjadi RI-1 atau berhenti. Ataukah dia akan tetep bertahan di PKB atau meninggalkannya, atau memilih pindah kendaraan untuk melaju ke kursi kepresidenan. Reaksi masyarakat, entah dari NU, PKB atau lainnya, akan menjadi bahan pertimbangan bagi beliau utnuk menempatkan posisi bilau. Maju terus atau berhenti meraih kursi RI-1, tetap mengendarai PKB untuk melaju ke Kursi Presiden atau atau justru harus segera cari kendaran lain, atau untuk memutuskan langkah-langkah lainnya.
Gusdur itu sangat lihai dalam mengatur strategi berpolitik dengan tetap menghormati hukum. Beliau juga, meskipun berambisi ingin menjadi Presiden tetap perhatian terhadap kondisi bangsa ini. Mungkin bagi kita orang kecil yang tak tau menau urusan orang besar hanya dan hanya terima informasi dari media, akan beranggapan bahwa Gusdur tak pernah bertindak apa-apa untuk bangsa. Tapi marilah kita sebagai bangsa, jangan asal menilai dan mem’vonis negative pada orang lain apalagi menghujat dan menyebar fitnah.
Dalam menilai seseorang atau tidak suka pada seseornag, marilah kita menggunakan pendekatan yang bijaksana. Cobalah cari tau lebih dahulu informasi tentang orang tersebut, entah kebaikannya dan juga kburukannya, kelebihannya dan kekurangannya. Tidak boleh hanya kekurangannya saja. Setelah tau silahkan bandingkan mana yang lebih besar sisi kelebihannya atau kekurangannya. Mana yang lebih besar, kesuksesannya dalam memimpin menyelesaikan persoalan bangsa atau sebaliknya. Jika semua itu sudah didapat silahkan putuskan sikap. Namun demikian informasi yang kita jadikan dasar haruslah akurat dan tentunya bukan informasi sepihak. Dan mari kita tetap berpegang pada asas PRADUGA TAK BERSALAH dan jangan sekali-kali sekedar ikut-ikutan.
Ingat ini sekedar Katague……….